Laman

MUSIK (Seni Budaya SMK)


Musik merupakan ungkapan perasaan seseorang melalui bunyi yang dapat menimbulkan perasaan estetis melalui indera pendengar.
1.       Unsur – unsur utama music adalah
a.       Ritme/irama
b.      Melodi
c.       Hrmoni, dan
d.      tekstur
2.       unsur-unsur pendukung music adalah
a.       tempo
b.      dinamik
c.       gaya
d.      kualitas nada, dan
e.      komposisi
3.       Ritme terdiri dari unsur
a.       Durasi nada
b.      Birama, dan
c.       Pola irama
4.       Melodi terdiri dari
a.       Pitch
b.      Notasi, dan
c.       Tangga nada
5.       Harmoni tersusun atas
a.       Interval
b.      Actor
6.       Secara garis besar, tekstur music terdiri dari
a.       Monofon
b.      Polifon
c.       Homofon
7.       Tempo music dibagi menjadi
a.       Cepat
b.      Sedang
c.       Lambat
8.       Dinamik music adalah
a.       Lembut
b.      Kuat
c.       Perpaduan keduanya
9.       Bentuk komposisi adalah
a.       A
b.      AA
c.       AB
d.      AA’BA
e.      ABC

Tari (seni Budaya) part 1

Pengertian Tari
Tari adalah gerak-gerak dari seluruh anggota tubuh yang selaras dengan bunyi musik, diatur oleh irama yang sesuai dengan maksud dan tujuan dalam tari.

Unsur-unsur tari dan pendukungnya:
1. Gerak
            Meurut Rudolf Von Laban aspek gerak terdiri dari beberapa bagian, yaitu:
    a. the body : misalnya, geak bagian kepala, kaki, tangan, badan.
    b. Space : ruang gerak, misalnya: level, jarak/rentangan atau tingkatan gerak.
    c. Time : misalnya, durasi gerak.
    d. dynamics : kualitas gerak, misalnya: gerak yang kuat, lemah, elastis, penekanan.
           Dengan demikian, unsur gerak dalam tari terdiri dari Ruang, Tenaga, dan Waktu.
2. Ekspresi
         Ekspresi di dalam gerak tari merupakan suatu daya ungkap melalui tubuh, aktifitas, pengalaman seseorang, untuk dikomunikasikan kepada orang lain untuk menyatakan perasaan atau pikirannya melalui tubuh.
3. Iringan Tari
      Iringan atau musik dapat dikatakan dinamis apabila mampu menggugah suasana dan mampu membawa penonton dan penari untuk mendapatkan sentuhan rasa sehingga pesan tersampaikan.
     musik dalam tari dapat pula memberikan keselarasan, keserasian, dan keseimbangan yang dipadukan menjadi satu kesatuan yang hidup.

poem 16

berkejaran...
saling mendahului.
tidak ada yang mau mengalah.
hingga akhirnya terpecah.
di tepi muara.
bersama angin yang menerpa.
ombak pagi ini.

(Tuban, 17/10/2013)

what the h***!!!

sumpah ya..
kalau bisa nyampah
udah gua buang muka lo ke laut.
gara-gara ELO, gua harus didudukin sama orang yang gak tau apa-apa.
dan lagian kenapa sih yang lain pada ikut campur.
sok ngadu segala lagi yang laennya!
kalau bisa gua bejek-bejek itu muka
yang sok innocent, sok segalanya!!
gua harus ngehapus akun gua,,, dan itu sudah gua lakuin...
puas ELO sekarang!!!!!
what the F***
M*** aja lo!!!
sumpah gua BETE bgt sm elo!

fine! puas elo sekarang lihat gua yang disudutin. gua yang dipersalahkan atas semuanya.
PUAS KAN ELO???!!!!
 

pendidik dan petugas ketertiban

sebuah pendapat yang hanya akan menjadi pendapat manakalah tidak diimbangi dengan pemahaman dan penafsiran yang utuh.
that's my word!


Sangat relevan sebuah 'punishment' dijatuhkan karena melanggar tatib.
Tidak ada perlakuan khusus bagi siapapun.
Karena bobotnya sudah disesuaikan.
Klo memang ingin memberi 'perlakuan khusus' karena karakternya yg berbeda, silahkan!
Tapi jangan memberikan keistimewaan itu langsung terlihat yg lain.
Akan ada yang namanya iri karena perlakuan yang berbeda itu.
(just my own opinion)
 
di atas adalah status yang saya buat di salah satu akun jejaring sosial. saya menulisnya karena saya adalah seorang pendidik. tidak ada maksud apapun dari status itu. itu saya tulis karena saya merasa kurang nyaman dengan sikap yang diambil oleh salah satu pendidik.
ada anak yang cenderung bermasalah dengan kedisiplinannya. dan hari itu anak tersebut "seperti biasa" telat. saya selaku pendidik menyerahkan penanganan anak tersebut kepada beliau. saya bukan petugas ketertiban. beliau juga bukan. tapi  sudah menjadi tugas kita bersama bergantian menanganinya. toh kita tidak bisa mengandalkan ketertiban setiap waktu. karena di sekolah kita tidak ada petugas ketertiban khusus. siswa menjadi tangung jawab kita bersama. kita bergantian menertibkan anak. saya yang notabene pergi kesana setiap hari sudah tidak mempunyai taji dihadapan anak-anak tersebut karena intensitas pertemuan kita yang cukup sering.
tapi sepertinya beliau tidak setuju dengan pendapat saya. dia memposisikan dirinya sebagai guru fak'nya bukan sebagai pendidik secara utuh. jadi ya... tidak ada 'punishment' karena beliau bukan petugas ketertiban.
berarti besok kalau ada yang meminta tolong saya fotokopi atau membuat kopi, saya akan bilang itu bukan tugas saya. saya sebagai TU+Guru Mapel, bukan OB (office boy). apa TU juga merangkap pembuat kopi? kalau iya, baiklah akan saya laksanakan.
thats just my own opinion. 
jangan ada yang tersinggung dengan postingan saya kali ini ya... toh ini hanya sekedar opini pribadi saya.

IDIOM PART 1

  1. I am in love at first sight : aku jatuh cinta pada pandangan pertama
  2. you are my dream love : kaulah idamanku
  3. my heart will go on : hatiku tak pernah berubah
  4. I feel as if I'm not fit to live anymore without you : aku seakan-akan tak mampu lagi hidup tanpamu
  5. I'm going to miss you when you're gone : aku kehilanganmu ketika kau tiada
  6. you're the only girl who comes early in my heart : kaulah gadis yang pertama kali memasuki hatiku
  7. you're the most beautiful girl in creation I dream : kaulah gadis tercantik yang aku impikan
  8. my mind is made up to love you : pikiranku sudah mantap untuk mencintaimu
  9. I must be faithful to the last : aku pasti setia sampai akhir hayat
  10. I am brokenhearted : aku patah hati
  11. Get out of my way : menjauhlah dari hidupku
  12. you are still blue to love me : kau masih lugu untuk mencintaiku
  13. you affected a liking for me : kamu pura-pura suka sama aku
  14. thats the last straw : ini benar-benar sudah keterlaluan
  15. I am closely related with you : aku tak dapat dipisahkan darimu
(di ambil dari berbagai sumber)

poem 15

bulan itu telah berlalu...
rasanya baru kemarin langkah-langkah itu menapak
rasanya baru kemarin oase itu mencumbuku
tapi entah mengapa sudah tak terasa lagi asa itu?
adakah aku yang linglung,
atau kah memang sebegitu cepatnya angin itu menyapunya?
hingga tak ada yang tersisa di logika.

(Lamongan, 1/10/2013)

SEPTEMBERKU


ada sebuah lagu yang mengisahkan bulan ini
dan kisahku pun hadir di bulan ini.
tak seindah lagu itu memang,
tapi tetap harus di nikmati

dalam tiap goresan lakuku
tak semua tersaji apik

ada saat dimana aku harus berjibaku dengan waktu
ada saat dimana aku harus bergumul dengan hati

ada kala kerasnya nada tersaji
ada kala derasnya buncahan rasa tak terbendung

kisahku di bulan ini
waktu dimana aku harus takluk pada waktu
kompromi dalam tiap tarikan nafas
bahkan dalam imaji diri.
kakiku harus tetap menapak!
jika ingin logika tetap menempel di kepala.

(Lamongan, 21 Sept 2013)

SISTEMATIK SURAT DINAS

Sistematik surat dinas adalah:
1. Kepala surat
2. Tempat dan tanggal surat
3. Nomor surat, Lampiran, dan hal.
4. Alamat surat
5. Salam pembuka
6. Isi surat
7. Penutup
8. Pengirim surat (tanda tangan, nama pengirim, dan stempel)
9. Tembusan

poem 14



Aku menyapu debu
pada terik siang itu.
adanya merah pada langkah
berdamping putih pada letih.
aku... masih berjibaku dengan debu
hingga tinggi terik-terik.
hingga fajar menyingsing senja.

poem 13

maaf jika ku harus bersua denganmu di jalan itu
jangan mengaduh ataupun merayu
aku hanya tak mau,
saat ini.
biarkan saja angin itu
toh itu tak akan mengusikmu.

(Lamongan, 17/06/2013)

poem 12

aku masih merangkak,
dan akan terus merangkak selama keberanian itu belum nampak
tak ku hirau apa kata alam
ada yang bilang,
aku cacat dalam pertumbuhan
usiaku harusnya usia jalan
tak taukah kalian?
tiap orang ada yang tak sama dalam pertumbuhan
meski kita sama gizi dan nutrisi
tapi gen-gen dan kromosom yang membentuk raga kita tak sama
jadi,
biarkan saja aku merangkak
kalian larilah
jika tlah saatnya nanti pasti ku dapat melampaui kalian

(lamongan, 10/06/2013)

poem 11

aku adalah inti dari manimu 28 tahun lalu.
itu kamu dalam menafsir aku.
kamu memasungku sejak kau membagikan manimu
yang entah kau tak tahu malu atau aku yang terlalu lugu,
aku membencimu sejak itu!

hakmu mengklaim aku
bagimu dewasaku adalah jerih payah mu.
pekikku yang bagimu adalah sengau tak berarti,
tak akan dapat menghanguskan apapun lagi, kini.

lakuku adalah laku egoku
preogratifku jika aku menari di atas egoku!
sudah final!
kau kan aku buang dari nurani
karena mataku tlah letih tuk meraba lima indra.

(lamongan, 02/06/2013)

poem 10

aku tak lagi bersenandung dalam bunyi
kelamku tak lagi nampak
beku itu merayap
sela-sela nadir yang mengangga
dalam masygul yg menyapu hati

(lmg, 26/05/2013)

poem 9

aku menikmati tiap gelak tawamu
aku mengidolai tiap jejak yang kau ukir itu
sayangnya tak pernah ku jumpai kau
bertafakur mengingat Tuhanmu
entah apa itu karena pengelihatku yang tertutup debu
atau memang itu sunguh kamu.

(Lamongan, 10/05/2013)

poem 8

aku ingin merangkaikan kata-kata untukmu
agar tumbuh rasa dihatimu untukku,
tapi kata itu terasa mencekikku
hingga tak sanggup ku ungkapkan lewat nada
terpaksa ku kirimkan peti mati itu
agar kau tahu betapa dalamnya rasaku padamu.

(Lamongan, 25/03/2013)

AKU MASIH...

setiap langkahku kuniati tuk menjahuimu
setiap asaku ku yakini itu karenamu
karena kabut yang kau cipta dimasa kanakkku
masih berbekas hingga kini....
tak ada satu keraguanpun dalam nafasku
jika namamulah yang terpatri dalam nadirku
karena hingga kini...
aku masih membencimu!!!

(Lamongan, 29/3/2013)

PAGIKU

aku terlilit dalam tiap kata yang terucap
seakan menjelma dalam pusaran tak bertepi
adanya nada yang tersaji membuatku makin tercekik
aku butuh sunyi
karena pagi tlah menjelma menjadi bunyi
ini masih pagi....
tapi lelahku tlah terkulminasi

(butuh segelas kopi lagi)
*Lamongan, 30/03/2013

suratku

Lamongan, 02 April 2013
Kepada Sang Surya
di Ufuk Timur

Dengan segala takzim,

Ingin kukabarkan kepadamu bahwa pagi ini aku merindu
merindui si Surya pagi yang enggan menampakkan diri.

Haruskah ku sajikan:
1. secangkir kopi cinta
2. sepiring sapaan hangat, dan
3. seulas senyum manis.

Demi rinduku akanmu yang enggan bersua denganku
haruskah ku menunggu di balik awan itu.
karena hingga kini aku masih merindumu

untukmu Suryaku.

(vialin, 8. 58 PM) 2 april 2013

catatan fon awal kalimat

Saat itu datang
Akal sudah tak dapat dikompromi
Kekayaan
Atau bahkan
Rasa bangga yang selama ini di nomersatukan
Akan musnah
Tak berbui sedikitpun
Urusan duniawi pun
Luluh lantak tak berbekas

Masa itu tak menunggu hari
Akan datang jika jatah tlah
Usai
Tamat sudah masamu di bumi

*catatan fon awal kalimat
(6/4/2013, Lamongan)

poem 7

rasa tidak suka yang berlebih akanmu akan memuncak
entah itu karena sebuah nama atau sebuah kata

aku meyakini seutuhnya bahwa ketidaksukaanku akanmu ini beralasan

tapi kedongkolan di hati itu tak bisa menjauh
manakala tentangmu selalu berputar di duniaku

jika saja ku punya kemampuan tuk menghilang...
akan kuhilangkan mereka dari bumi,
agar tak mengotori hatiku yang semakin menghitam

(Lamongan, 07/04/2013)

poem 6

Masih ku ingat namamu di senja itu
Meski kadang rindu meradang

Tapi terpuruknya aku..
Saat bulan tertutup kabut malam ini
Ku mendengar berita
Waktumu di bumi tlah usai.

Tak pernah nampak kesakitanmu selama ini di ronamu
'kakak' baruku selamat jalan
Tlah kau selesaikan tugasmu di bumi dg indah.
Kau hantarkan dua kebanggaannu ke tempat menuntut ilmu
Dengan bekal iman yg kuat
Tlah kau singgahi pula tanah suci itu.
Kini damailah dirimu di rumah baru
(18 April 2013, Lamongan)

poem 5

aku tidak memahatmu
tapi kau terpatri dalam selaksa jiwa

ada yang bilang
kau benalu dalam nadir
mengoyak-oyakkan setiap hemoglobin dalam jiwa

meski begitu raga beku
ketika kau lenyap.

Lamongan, 20/04/2013

poem 4

aku tidak takut akan teriknya surya
aku juga tidak sembunyi dari hembusan debu yang mengiritasi mata
aku hanya takut....
ketika nafas tak lagi ada
dan kau tertawa pongah
saat tubuhku meregang nyawa
dalam sunyinya senja tanpa purnama.

(Lamongan, 21/04/2013)

DAUN ITU

pernahkah ada tanya pada ranting,
adakah kau rindu pada daun yang mengering?
sementara air bahagia
karena berkurangnya penghisap dirinya

sedang si kuncup dan batang butuh glukosa
ekosistem itu harus tetap berlangsung
ini musim penghujan
tapi kemarau tlah lama datang
hingga daun ragu
ia mau beregenerasi sekarang atau nati.
daun itu kini lunglai dalam fotosintesisnya sendiri

(lamongan, 27/04/2013)

poem 3

Bergumul dengan teriknya surya
Kau tenteng kamera demi sebuah cita
Acap kali riak dan rona ceria tertangkap wajah

Duh... Anak-anak itu...
Penuh energi baru dalam mengarungi waktu.

Ku antar masa mudamu kali ini
Dan kan ku selami masa dewasamu
Hingga kelak kau menjadi wajah baru di negeri ini.
Negeri baru nan damai dalam pandora imaji.

Aku percaya sungguh!
Kau kan jadi manusia yang berbudi.
 (Lamongan, 01 Mei 2013)

poem 2

bagai pualam retak.
saat nada terasah kata
duh....
aku
menghardikmu demikan sunguh
karena bara rasaku tak tertampung waktu

ingatkah saat mata kita saling beradu
kau tertunduk beku
saat kilatan luka itu terpampang jelas di retinaku
hingga ajal membeku di nadiku
bara itu akan tetap terpatri
pualam akan tetap retak
hingga jingga bertemu mega.

(lamongan, 07.05.2013)

poem 1

ada yang aneh pada langit siang itu
tampak tersenyum malu padaku
sementara payungku terbakar cemburu oleh senyum itu

ini terlalu sejuk untuk sengatan matahari sepanas ini
adakah kau merayuku dengan cara ini?
aku tersipu karenamu
tapi ku masih menanti senja sore ini...

(Lamongan, 04/05/2013)

TANYAKU



Rintik itu menyisakan tanya
Saat kerikil berubah menjadi bongkahan karang
Mencabi-cabik tiap langkah rasa

Aku menunggumu…
Menunggu eloknya senja
Kala mega bermuram durja

Ini pertiwiku…
Tempat dimana nadiku bercumbu mesra
Dengan pemilik alam raya
Dahagaku akan damai
Dahagaku akan oksigen
Tertutup kabut riak benci

Tanyaku pada senja…
Adakah kau menunggu surya?
Atau kau merindui mega?

(Lamongan, 19/03/2013)