Laman

sebuah...... kata

Menjauhlah sebuah nada
saat denting porak poranda
menjadi serpihan asa

menjauhlah sebuah rasa
ketika hati tlah mendingin
karena kabut rasa benci
dan iri serta maki.

Nyatanya Doa

setumpuk asa terangkai dalam kalbu
dalam dekapan malam
merajut titian doa_doa yang semu
tapi nyata akan makna
dalam taffakurku,,,
mengharapmu adalah nyata
nyatanya senyata hati
yang tak dapat ingkar
selaiknya mulut berujar

untittle IV

malam ini basah
matamu pun berkata
aku terluka!
Malam ini duka
Hingga tengah malam kau terjaga
Tanpa senyum,
Tanpa kata.
(Surabaya 23 November ‘05)

untittle III

wajah itu
terlihat kuyu
keletihan terpancar di wajahnya
dengan senyum dikulum
dia bilang…
“Selamat malam
semoga bermimpi indah”
(Surabaya, 21 November ’05)

untittle II

Malam ini pekat
Tanpa bintang dan bulan
Tanpa senyum dan harapan
Beku……………
Dalam kehampaan abadi
Tatkala hati ini rapuh
Ku cari bayang Mu
Tuk mengisi kehampaan ini
Layaknya Sahara yang merindukan
hujan sejuta abad
kebekuan memuncak
disaat harapan tinggal asa
mampukah ku bertahan?
Seorang diri
Tanpa cahaya
Tanpa purnama
Hingga detik ini
Di kegelapan abadi
(Surabaya, 04 Desember ‘05)

DAN (15/12/2005)

Gemuruh ombak menggempur asa
Buih terbang terbawa awan
Dan……….
Haruskah ku teriak?
Terbang angin menghambarkan melodiku
Resonansi-resonansi suara tlah terbang
Bersama awan kesurga
Tuk mencerca pencatat dosa
Adilkah?!
Dan………
Awan pun melemparkan ku ke laut
Terbawa ombak, tertiup angin
Terhempas tak berdaya
Mati!
(Surabaya, 15 Desember ‘05)


UNTUK (25/12/2005)

Aku bosan dengan semua kesunyian ini
Seolah udarapun enggan untuk bergerak
Nada-nada dalam hatipun malas tuk bermelodi
Kucoba tuk triakan hati
Namun tak kuasa mulut berucap
Pelangi jiwa mengerang lara
Pelangi hati tersenyum sedih
Dan untuk apa raga ini ada?
Jika duka lara tak jua enggan dari jiwa
Kehampaan tanpa makna
Keperkasaan tanpa ruh sang pencipta
Dalam asa ku coba tuk tebarkan senyum termanis
yang ada di jiwa
Akankah?
Bah!
(Surabaya, 25 Desember ’05)

PANCARASA

kusematkan seluruh nafas dalam tragedi tak bertepi
ku tercekik dalam kelamnya malam
bayangan asa membeku dalam diam
tubuh kaku dalam sunyi
asa rasa menghilang dan berlalu dengan dendam
gelegar langit memecah sunyi
elemen-elemen tubuh tercerai berai
ketika molekul hati bersatu
dengan kelima indra dan memuntahkan kata
kata yang paling indah
untuk manusia yang tak pernah pantas menjejakkan kaki di bumi.

UNTUK

Aku bosan dengan semua kesunyian ini
Seolah udarapun enggan untuk bergerak
Nada-nada dalam hatipun malas tuk bermelodi
Kucoba tuk triakan hati
Namun tak kuasa mulut berucap
Pelangi jiwa mengerang lara
Pelangi hati tersenyum sedih
Dan untuk apa raga ini ada?
Jika duka lara tak jua enggan dari jiwa
Kehampaan tanpa makna
Keperkasaan tanpa ruh sang pencipta
Dalam asa ku coba tuk tebarkan senyum termanis
yang ada di jiwa
Akankah?
Bah!
(Surabaya, 25 Desember ’05)

DAN

Gemuruh ombak menggempur asa
Buih terbang terbawa awan
Dan……….
Haruskah ku teriak?
Terbang angin menghambarkan melodiku
Resonansi-resonansi suara tlah terbang
Bersama awan kesurga
Tuk mencerca pencatat dosa
Adilkah?!
Dan………
Awan pun melemparkan ku ke laut
Terbawa ombak, tertiup angin
Terhempas tak berdaya
Mati!
(Surabaya, 15 Desember ‘05)

UNTITTLE PART 3

Malam ini pekat
Tanpa bintang dan bulan
Tanpa senyum dan harapan
Beku……………
Dalam kehampaan abadi
Tatkala hati ini rapuh
Ku cari bayang Mu
Tuk mengisi kehampaan ini
Layaknya Sahara yang merindukan
hujan sejuta abad
kebekuan memuncak
disaat harapan tinggal asa
mampukah ku bertahan?
Seorang diri
Tanpa cahaya
Tanpa purnama
Hingga detik ini
Di kegelapan abadi
(Surabaya, 04 Desember ‘05)

UNTITTLE PART 2

wajah itu
terlihat kuyu
keletihan terpancar di wajahnya
dengan senyum dikulum
dia bilang…
“Selamat malam
semoga bermimpi indah”
(Surabaya, 21 November ’05)

UNTITTLE PART 1

malam ini basah
matamu pun berkata
aku terluka!
Malam ini duka
Hingga tengah malam kau terjaga
Tanpa senyum,
Tanpa kata.
(Surabaya 23 November ‘05)

Mu dan Ku

kehadiran mu
senyuman bagi ku
tawa mu
kehidupan bagi ku
tangis mu
luka bagi ku
canda mu
kehangatan bagi ku
pacar mu
musuh bagi ku
tapi……….
Kau tak pernah tau
Ada apa dihati ku?
(Surabaya 21 November ‘05)

Multiple Intelligence (Multi Kecerdasan)

Anggapan bahwa jika IQ tinggi itu berarti cerdas sekarang ini sudah tidak menjadi patokan lagi. Prespektif atas anggapan tersebut berdampak negatif bagi sebagian besar siswa. kecerdasan manusia itu banyak rumpunnya. kecerdasan itu maultidimensional, banyak cabangnya. Jadi tidak ada siswa yang bodoh, setiap siswa mempunyai rumpun kecerdasan masing-masing!
Ada 8 rumpun Multiple Intellegence, yakni:
1. Kecerdasan Linguistik (word smart) atau Cerdas Berbahasa
kemampuan menggunakan kata secara efektif, baik secara lisan (misalnya: pendongeng, orator) maupun secara tertulis (misalnya: pengarang, wartawan). Kecerdasan Linguistik mencakup kemampuan menggunakan kata, bahasa bunyi, retorika, dan lain-lainnya.
2.  Kecerdasan Matematis-logis (number smart) atau Cerdas Angka
kemampuan menggunakan angka dengan baik (misalnya: ahli statistik, matematika, akuntan) dan melakukan penalaran secara tepat (misalnya: ilmuwan, pemrogram komputer, ahli logika). kecerdasan ini meliputi kepekaan pada pola dan hubungan logis, hubungan sebab akibat, proses kategorisasi, klasifikasi, generalisasi, penghitungan, pengujian, hipotesis, dan pengambilan keputusan.
3. Kecerdasan Spasial (Cerdas gambar)
Kemampuan melahirkan persepsi dimensi spasialvisual (keruangan) secara akurat (misalnya: pilot, pengemudi, pemburu, pramuka) dan mentransformasikan (dekorator interior-eksterior, arsitek, pelukis, penemu). Komponen intinya adalah kepekaan pada warna, garis, bentuk, ruang, dan hubungan antarunsur tersebut.
4. Kecerdasan Kinestetik-Jasmaniah (body smart) atau Cerdas Tubuh
 Keahlian menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresiakan pikiran dan perasaan (misal ; aktor, pemain pantomim-operet, penari, atlit) dan keterampilan menggunakan tangan untuk mencipta atau mengubah (misal: pengerajin, teknisi mesin mekanik, dokter bedah, pengukir). kecerdasan ini mencakup kemampuan fisik yang spesifik antara lain: koordinasi, keseimbangan, keterampilan, kekuatan, ketepatan, dan lain-lainnya.
5. Kecerdasan Musikal (Cerdas Musik dan Nada)
Kemampuan mengerjakan bentuk-bentuk musikal dengan cara melahirkan persepsi (pengguna musik), membedakan (kritikus musik) menggubah (composer) dan mengekspresikan (penyanyi). komponen dasar kecerdasan musikal adalah kepekaan pada irama, pola titi nada/melodi, warna suara suatu lagu.
6. Kecerdasan Interpersonal (self smart) atau Cerdas Diri
Kemampuan membuat persepsi dan membedakan suasana hati, keinginan motivasi, dan perasaan orang lain. Komponen utamanya adalah kepekaan pada ekspresi wajah, suara, gerak, isyarat, merespon, dan persuasi (mempengaruhi).
7. Kecerdasan Intrapersonal (people smart) atau Cerdas Bergaul
Kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak atas pemahaman diri tersebut. Termasuk juga memahami secara tepat kekuatan dan keterbatasannya, menyadari suasana hati, keinginan motivasi, tempramen/watak disiplin diri, dan harga diri.
8. Kecerdasan naturalis (Cerdas Alam)
Keahlian mengendalikan dan mengkategorikan spesies flora dan fauna dan alam sekitar. Kemampuan dasarnya adalah kepekaan terhadap gejala alam dan menyikapi makhluk hidup.

TIPE - TIPE KEPRIBADIAN SISWA


 Tipe-tipe kepribadian siswa menurut Hipocrates: 
  1. Kepribadian Sanguinis, ciri-cirinya:
  • Ekstrovet
  • optimis
  • periang dan penuh semangat
  • Penuh rasa ingin tahu
  • rasa humor tinggi
  • ekspresif
  • memiliki kebutuhan mendasar akan pengakuan dan penghargaan.
 2. Kepribadian Melankolis, ciri - cirinya:
  •  Introvet
  • Pemikir
  • pesimis mendalam dan penuh pikiran yang analitis
  • serius dan tekun
  • cenderung jenius
  • berbakat dan kreatif
  • sangat teliti
  • hati - hati dan suka curiga
  • taat aturan
  • sangat konsisten dengan perasaan yang halu
  • memiliki kebutuhan mendasar berupa jawaban yang bermutu dan didukung data yang lengkap dan akurat. 
 

3. Kepribadian Koleris, ciri-cirinya:
  • ekstrovert
  •  keras
  • tegas
  • tidak emosional bertindak
  • tidak mudah patah semangat
  • bebas dan mandiri
  • memancarkan keyakinan dan bisa menjalankan apa saja
  • berbakat menjadi pemimpin.
  • dinamis
  • aktif
  • membutuhkan perubahan
  • memiliki kebutuhan mendasar berupa tantangan, pilihan, dan pengendalian.

4. Kepribadian Phlegmatis, ciri-cirinya:
  •  introvert
  • mudah bergaul dan santai
  • diam tenang
  • sabar
  • pemalu
  • hidup konsisten
  • tenang tapi cerdas
  • simpatik dan rendah hati
  • menyembunyikan emosi
  • bahagia menerima kehidupan,
  • tidak suka konflik
  • suka hal yang sama "status quo"
  • memiliki kebutuhan mendasar berupa penghargaan dan penerimaan.
Sumber: Mujiyono, dkk. 2010. Modul Pengembangan Diri Melalui Layanan Bimbingan dan Konseling Untuk SMK Kelas X. Yogyakarta: Paramitra Publishing.
Halaman: 36.