Halaman

kesepian

Senin, 27 sept 10
Rasanya dunia begitu sepi.
Aku terpekur di sudut kasur yang mati.
Sesekali airmata mengalir.
Ikut meratapi keadaan yang tak perna berkompromi.
25 tahun sudah aku ada...
Dan semuanya tampak buruk adanya.
Ayah tetap tak setia.
Ibu tetap terluka.
Adik tetap kecewa.
Dan aku tetap tak bahagia.

Parahnya dunia kecilku pun ikut porak poranda.
Aku harus segera menikah karena usia yang menurut orang tak lagi muda.
Ayah pun membuat sayembara.
Harusnya akulah penentunya...
Tapi kenapa semua terasa tak nyata.

Aku gamang.
Aku ragu.
Aku takut.
Aku tak tahu harus apa...

Aku lelah dengan semuanya..
Aku merasa duniaku seolah panggung sandiwara.
Aku hanya salah satu lakonnya.
Dan ayahku adalah sutradaranya.

Aku ingin lari....
Tapi kemana?
Apakah ini karena aku tak pernah setia dg Tuhan??

Apakah ini takdir hidupku...
Apakah ini kisahku???

Kalau dengsn kata MENYERAH semuanya akan berakhir...
Aku sanggup mengucapkan kata itu jutaan kali...

Aku ingin seperti yang lain.
menemukan cintaku sendiri..
Memperoleh kebahagiaan dg tanganku sendiri.
Dan keluargaku bersatu lagi...

Aku benar2 merindukannya...

sajak

Lunglai tubuh ringkihmu...
Dalam temaram senja malam
Kau begitu tegar dalam menuai sebuah cita
Tuntuk diri, negeri, dan orang tua.

Aku malu pada bulan...
Karena ku hanya bisa meminta tanpa bisa berkarya.

Aku terlalu pengecut
Bahkan angin pun mengakuinya....

Aku harus melangkah....
Karena ini tak lagi lucu...
Aku bukan lagi bayi yang hanya mampu meminta!!!

tujuan

saat kita melangkah, berapa pun jauh atau dekatnya jarak tersebut, selalu ada tujuannya. jika kau belum menemukan tujuan tersebut alangkah baiknya kau diam sejenak dan merenungi kemana, sejauh apa, dan kapan kau akan melangkah?!

DPR/MPR.... alangkah lucunya 'orang2' di negeri ini?!?

ada feomena baru di TV, dalam satu hari beberapa stasiun TV menyiarkan tentang hebohnya Sinta dan Jojo dalam melipsingkan lagu Keong Racun. tapi ketika aku mengganti saluran TV ke program berita (selain infotaiment) maka kita akan melihat maraknya berita mengenahi kinerja DPR/MPR, salah satunya mengenahi absensi. seru sih ketika melihat narasi-narasi yang diberikan acara tersebut. ada salah seorang anggota dewan ketika ditanya mengenai masalah tersebut berkata, "salah satu alasannya yaitu, kita ada tugas-tugas dari partai yang harus dikerjakan". reaksi saya cuma satu, "lho, itukan masalah partai... dia kan d gaji sebagai anggota dewan, kok malah mementingkan masalah partai? aneh!!!" aku adalah orang awam yang tidak mengerti masalah politik, tapi ketika melihat hal-hal tersebut rasanya otakku tidak mau menerima alasan-alasan yang dikemukakan anggota dewan. terlalu dibuat-buat! ada yang tidak terima ketika absensi anggota dewan yang bolong-bolong di perlihatkan di media. kalau merasa malu, ya jangan suka bolos!!! media kan salah satu jalan buat rakyat -yang telah meluangkan waktu untuk memilih mereka sehingga mereka kini bisa menduduki kursi dewan yang mempunyai gaji selangit padahal kerjanya cuma duduk-duduk saja- untuk mengetahui bagaimana kinerja anggota dewan.
sebelum ini, sering kali aku mendengar masyarakat berkomentar mengenai PILKADA atau PILGUB dan sejenisnya, mereka selalu bilang, "meski dia yang menang kita tetap susah, dia kalah kita juga tetap susah, jadi gak ada bedanya". masarakat sekarang ini banyak yang berfikir skeptis mengenai pemimpin-pemimpin bangsa ini.
jadi, jangan kaget ataupun heran jika rakyat tidak begitu percaya pada anggota dewan juga seluruh petinggi negara tercinta kita ini. so, siapa yang sebenarnya sedang melucu di negeri ini???

RAHASIA

tak ada rahasia dalam kamusku. ketika ku telah menceritakan suatu kisah ke orang lain berarti itu bukanlah suatu rahasia lagi, karena pada dasarnya manusia tidak akan perna bisa menutup mulutnya.

SENYUM

senyum adalah doa
senyum adalah pengharapan
senyum adalah mimpi
senyum adalah hadiah
senyum adalah surga
senyum adalah mukjizat
senyum adalah ibadah
senyum adalah pelipur lara
senyum adalah segalanya
jadi senyumlah selagi kau bisa

TERPENJARA

aku terpenjara didasar hati
ketika semua tak lagi hitam dan putih
aku terkungkung dalam sangkar sunyi
ketika hitam adalah putih dan putih adalah mati.

SUARA

desingan CPU yang memekakkan telingga
aku terpaku tanpa kata
dalam kabut tanpa makna
aku diam tanpa nada
aku ingin tahu apa...
ternyata baginya aku hanya seonggok raga tanpa jiwa
getirnya tertelan sudah
entah seberapa lama ku dapat bertahan...
aku hanya mahkluk yang baginya...
dapat diam bila bertemu uang
tahukah dia yang ku butuh cuma kasihnya
yang tak pernah kudapat secara utuh
sejak aku beranjak remaja.
mata memandangku bagai bocah...
padahal usiaku tak lagi muda
inikah cinta???
rasa rindu dan benci yang terkamuflasekan dengan seonggok materi
yang tak kan perna dapat kau bawa mati
seperti bisunya monitor ini....

bimbang..... entahlah!!!!

aku harus memilih!
tetap di perantauan atau pulang ke kandang. sebenarnya aku lebih nyaman di sini, jauh dari kebisingan yang kadang menyesakkan dada. aku malas tuk pulang, tapi tidak mungkin selamanya aku disini. ada tanggung jawab yang harus aku pikul di rumah, karena aku adalah anak tertua. aku belum menemukan pekerjaan yang 'tetap' yang bisa mengangkat harkat kedua orang tuaku, sementara usiaku terus merangkak ke angka 30. memang masih 5 tahun lagi, tapi itu bukanlah waktu yang lama.
seandainya aku pulang, akan ada pekerjaan mulia yang menantiku... tapi gaji yang aku terima sangat pas-pasan, tapi jika aku tetap bertahan aku akan memperoleh gaji yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhanku di sini. tidak mungkin juga aku menolak pekerjaan di rumah, karena itu adalah pekerjaan yang diusahakan orang tuaku dan itu adalah pekerjaan 'tetap'. sementara pekerjaan di sini adalah pekerjaan sementara. aku tidak ingin mengecewakan mereka...
ada hal lain yang memberatkanku tuk pulang kandang... aku belum siap dinikahkan dengan lelaki pilihan ortuku... aku belum mengenalnya secara utuh, bahkan aku melum menemukan 'chemistry' dengannya. kita tidak pernah ngorol secara langsung bahkan berkomunikasi pun belum. setahuku dia juga telah memiliki seseorang yang spesial dihatinya. kalau mereka dipisahkan dengan cara seperti ini pasti akan sangat menyakitkan. aku sendiri telah memiliki seseorang yang ku suka tetapi orang tersebut tidak pernah tahu tentang perasaanku. bisa dibilang bertepuk sebelah tangan. orang tuaku sendiri tidak begitu setuju jika aku menjalin hubungan dengan orang yang tempat tinggalnya jauh dari tempat asalku. sudahlah... aku juga tidak pernah berharap darinya. yang jelas aku benar-benar pusing dengan semua itu.
saat teman-temanku melihatku atau mereka menilai karakterku, mereka tidak pernah tahu kalau aku punya segudang masalah. dari masalah ayahku yang menikah lagi dengan tetanggaku yang lebih muda dan kaya, sejak aku kelas 5 SD. ibuku yang emosinya meledak-ledak sejak ditinggalkan ayahku yang tak pernah memberi kejelasan status sampai sekarang. adikku yang merasa kurang disayang oleh ayahku. dan aku dengan usia 'siap nikah' dan pekerjaan yang belum mapan. entahlah... aku cuma bisa berharap semua akan baik-baik saja dan berakhir dengan indah. amin

apa mau dikata

kebencianku pada temanku sangatlah beralasan. dia adalah biang keladi dari segala masalah yang timbul di tempat baruku. dia suka carmuk pada atasan. dia suka memprovokasi, dan dia juga suka mengadu domba. dia menginginkan yang lain jujur padanya, sementara dia sendiri tidak pernah jujur pada kita semua.
pada dasarnya rasa benci ataupun suka semua itu punya alasan masing-masing. hanya saja seringkali kita tidak dapat mengejahwantahkan perasaan tersebut.

duniaku

ini adalah dunia kata
aku yang berkata
aku yang merasa
aku yang terluka

ini adalah dunia lagu
aku yang bersenandung
aku yang terkungkung

terserah mau apa karena ini adalah duniaku
dunia tanpa batas
dunia tanpa sekat
dan dunia tanpa warna

aku adalah pelukisnya
aku adalah penciptanya
aku adalah kreatornya.

duniaku part 2

adalah sebuah kotak tak berwarna...
ku terlelap dalam dimensi warna
lunglai sepi tanpa nada
dalam diorama perempuan perkasa

tanpa ragu

aku terkulai di sudut.
diantara molekul hati yang mematri rasa.
aku tersapu ombak kabut.
kala senyummu tak lagi ada.
aku terkoyakkan sunami benci.
ketika eloknya sebuah paras bertatap muka.
aku menyimpan sejuta maki..
saat raga tak mampu lagi membendung hasrat tuk membenci.
aku ingin kau musnah dari bumi!!!