Halaman

Nada T

Terkontaminasi jutaan suara
Raga tersayat tanpa nyawa
ada kala gulana membui
tersenyum lirih tanpa arti
lihatlah.... air langit tlah lelah tuk berbagi.

terintimidasi bilur sunyi
bertekuk lutut dalam memori
nada sumbang mencekik mimpi

Terimprovisasi dalam diam
tertatih-tatih tuk melangkah
tertawa dalam jurang
terkubur dalam dendam.

(November 2008)

kisahku

give up.... -_-

Belum juga langkah itu menapak...
ku tlah jatuh dalam lubang yang sama
penolakan

keep fighting is my best choice

tak ada kata menyerah
karena rindu ini purnama
tidak ada kata menyesal
karena ini adalah langkah ke depan
bukan step kemunduran

Allah know what is the best for me
because He's never sleep..

jika tlah tiba saatnya...
tak perlu waktu tuk menunda
karena memang tlah tiba waktunya

jika kini ku masih di jalan ini sendiri
itu berarti sang pemilik,
pemilik tulang rusukku...
masih mencariku dijalannya
hingga saatnya nanti kita bertemu di persimpangan

Keep fighting.... ALLAH never sleep !!!

pemilik hati

mencoba membuka hati
kepadamu pemilik alam imaji
dalam kalusa waktu
yang memporakporandakan kisah
dalam konsonan frasa

acapnya kata tersaji bunyi
rasa terpatri hati
terhimpit di kilaunya nada
sesaknya nafas jiwa

aku harus melangkah
dalam pusaran nyawa
dalam deretan kata
tak adanya kata tidak
dalam klausa makna
karena kata tlah mati
dalam heningnya hati.

tersudut ku disini
dalam membuka imaji
kepada pemilik hati

alunan sunyi

sepi...
di kesunyian malam
 diantara asa,
dan benda tak bernyawa
lirih...
nyanyian malam
dan keremangan pun meraja
menusuk kalbu jiwa
ambisi...
meradang dalam hati
sampah!!!

(25 Juni 2005)

gulana

cabikan gulana
di senja merah
tertutup kabut kehampaan
kala rasa meradang
terbawa senja malam

rasa...
kadang tertawa riang
juga menikam tajam
 perih bilur hati

jantung...
berdegup tak beraturan
terhiasi kabut malam
senja merah
dan...
gulana pun sengsara!

(di sore itu, 2 Juli 2005)

asa

asa...
kala ku terjaga
dari ketidakpastian
hujan pun mengguyur  seketika itu jua

asa...
kala ku terdiam
dan kau pun terpaku tak mengerti
aku hanya bisa diam disini
sendiri...
sepi...
sunyi...
mati!

(Tengah malam, 04 Juli 2005)

Kau... Api?

kau...
seperti api
adakala menyinari
tapi lebih banyak menyakiti

kau...
tak pernah peduli
dengan air, angin, atau yang lain
hanya dengan dirimu sendiri
kau bisa bahagia

kau.....
sulit dimengerti
meskipun kini
aku tahu dengan pasti
kau adalah api

(06 Juni 2005)

imajiku

kadang....
imaji berfikir liar
kau tersenyum
kau cemberut
kau teriak
dan marah padaku
cemburu, kangen, bahkan menangis didepanku
tapi...
itu hanya khayalku
karena kau di samping sahabatku...

(Oktober 2005)

Patah Hati

kulihat senyummu
merekah di bibir indahmu
kulihat matamu
memandang penuh arti
kulihat tubuhmu
begitu perkasa disebelahnya
padahal ....
disini aku gelisah
-tapi ku tahu, ku bukan siapa-siapa-

(Oktober 2005)

kisahku

hari ini kisah yang sama
malam ini senyum yang sama
hati ini orang yang sama
dia menambatkan hatinya
untukmu. kamu....
menaruh hatimu disebalahnya
sedang hatiku?
terluka

(Oktober 2005)

detik ini

Detik ini
hatiku untukmu
detik ini
hatimu untuknya
detik ini
kalian bersatu
dan...
detik ini
aku terluka

(Oktober 2005)

musik hati

Alunan musik mengalun
debaran hati berdetak kencang
senyummu mengembang
padahal....
hujan turun deras
tubuhku gerah
dirimu tertawa
aku tergoda
sayang!
tawa itu hanya untuknya

sayap

kepakan sayapku melemah
awan pun bermuram durja
gelegar membahanadirimu terpaku
memujiku
aku termangu
takjub kearahmu
dan hatiku pun terbang
kearahmu...

(Oktober 2005)

PERIH

Kerikil-kerikil melukai kaki
berdarah-darah
ku tak rasa sakit
karena kau meredakan luka
hanya saja
itu tak bertahan lama
karena hatimu tersisih
oleh melati-melatiku

(Oktober 2005)

konsonan

kudapati tubuh terhempas oleh senyummu
yang tak kau tahu untuk siapa
kau adalah udara
yang tak pernah jauh dari -hayalku-

kau setubuhi tubuh
dengan kata-kata
kau telanjangi tubuh
dengan mata

ku sadari...
itu semua tidak untukku.

(08 Desember 2006)

08 Desember 2006

Memori kisah kita
tlah terpatri di dasar hati
meski ku tahu
tak semua sejarah itu indah
saat kau tikam hati
dengan perempuan tanpa nama
hanya ada tangis darah
kau begitu perkasa
dengan kata dan mata
ya Ayah!
kau adalah raksasa
tanpa jiwa!

10 Desember 2006

ku lihat jutaan mata memandang hampa
dengan perut tanpa isi dan tubuh terbaring ringkih
jeritan suara menyayat hati

tatkala rasa sakit itu tiba
aku... hanya dapat diam
tanpa kata, tanpa raga, dan rasa

saat kepala kudongakkan ke atas
sedih hati yang terekam
para jutawan berjalan melengang
dan tawa sombong memekakkan telinga
tak pernah tau rasa duka nestapa

atas nama

atas nama rasa
kuungkapkan rasa suka
atas nama hati
kau goreskan luka
atas nama cinta
ku relakan kau dan dia
atas nama luka
ku benci diriku yang kalah
atas sebuah nama

(10 Desember 2006)

12 Oktober 2005

Ilalang bergoyang...
angin tertawa riang
gunda gulana hilang

alam sunyi bernyanyi
gemricik air...
terdengar merrdu di hati.
than....
imaji musnah
karang pun terpaku sedih

ajalku dalam pusaran waktu

ajalku dalam pusaran waktu

satu persatu pasir membeku
membentuk jutaan molekul
dalam satu titik nadir

saat bumi tersenyum pasti
adakah eloknya bunga
tercermin dalam senyum malam
saat waktu tercabut asa
dalam diam bunga berkembang

bukan bunga yang mati
tapi air yang mengering
mengkristal dalam sunyi
dan beku karena hati

sajak tanpa isi
hanya kata tanpa bunyi
dalam beku ku pahami
aku... di sini... mati.... sendiri.