Postingan

Menampilkan postingan dengan label poetry

tentangmu

aku menyerah tentangmu untuk yang keberapa kalinya kalimat ini terucap karena kau selalu membuatku mengeluarkan mata air tubuhku emosiku terkuras tenagaku tandas dan akalku telah lepas. kau dulu tak penting aku berusaha membuatmu menjadi penting tapi... sikapmu menghancurkan seluruh kerja kerasku. jadi... sudah cukup. aku lelah

jenuhku

aku begitu jenuh tentangmu tentang tingkahmu tetang watakmu bahkan tentang aromamu tak ada yang tersisa semua hal tentangmu bagiku adalah jenuh

tentangmu

sebuah kata yang tak cukup hanya sekedar kata akanmu yang tak pernah ku mengerti. kau begitu sibuk dengan egomu begitu pun aku. kita mengawali tanpa tau seperti apa kita kita belajar mengerti seperti apa kamu begitu pun aku. kadang ada setumpuk rasa lelah mendera tatkala 'hobi'mu yang tak pernah dapat dikompromi aku berjibaku dengan waktu kau terperangkap dalam egomu. saat aku tak mau mengerti itu, kamu berdalih seolah kamu benar pada posisimu. sabarkanku dalam melangkahkan kaki ini bersamamu. semoga dapat kutemui bahagiaku bersamamu. entah kapan itu... (Lamongan, 11/11/2014

denting nada

anggap saja aku tuli aku tak ingin dimengerti aku hanya butuh ruang nafas terlalu sesak langkah ini jika setiap jengkal selalu ada garis ingin ku hapus semua nada tapi aku terpatri akan janji.

poem 16

berkejaran... saling mendahului. tidak ada yang mau mengalah. hingga akhirnya terpecah. di tepi muara. bersama angin yang menerpa. ombak pagi ini. (Tuban, 17/10/2013)

poem 15

bulan itu telah berlalu... rasanya baru kemarin langkah-langkah itu menapak rasanya baru kemarin oase itu mencumbuku tapi entah mengapa sudah tak terasa lagi asa itu? adakah aku yang linglung, atau kah memang sebegitu cepatnya angin itu menyapunya? hingga tak ada yang tersisa di logika. (Lamongan, 1/10/2013)

SEPTEMBERKU

ada sebuah lagu yang mengisahkan bulan ini dan kisahku pun hadir di bulan ini. tak seindah lagu itu memang, tapi tetap harus di nikmati dalam tiap goresan lakuku tak semua tersaji apik ada saat dimana aku harus berjibaku dengan waktu ada saat dimana aku harus bergumul dengan hati ada kala kerasnya nada tersaji ada kala derasnya buncahan rasa tak terbendung kisahku di bulan ini waktu dimana aku harus takluk pada waktu kompromi dalam tiap tarikan nafas bahkan dalam imaji diri. kakiku harus tetap menapak! jika ingin logika tetap menempel di kepala. (Lamongan, 21 Sept 2013)

poem 14

Aku menyapu debu pada terik siang itu. adanya merah pada langkah berdamping putih pada letih. aku... masih berjibaku dengan debu hingga tinggi terik-terik. hingga fajar menyingsing senja.

poem 13

maaf jika ku harus bersua denganmu di jalan itu jangan mengaduh ataupun merayu aku hanya tak mau, saat ini. biarkan saja angin itu toh itu tak akan mengusikmu. (Lamongan, 17/06/2013)

poem 12

aku masih merangkak, dan akan terus merangkak selama keberanian itu belum nampak tak ku hirau apa kata alam ada yang bilang, aku cacat dalam pertumbuhan usiaku harusnya usia jalan tak taukah kalian? tiap orang ada yang tak sama dalam pertumbuhan meski kita sama gizi dan nutrisi tapi gen-gen dan kromosom yang membentuk raga kita tak sama jadi, biarkan saja aku merangkak kalian larilah jika tlah saatnya nanti pasti ku dapat melampaui kalian (lamongan, 10/06/2013)

poem 11

aku adalah inti dari manimu 28 tahun lalu. itu kamu dalam menafsir aku. kamu memasungku sejak kau membagikan manimu yang entah kau tak tahu malu atau aku yang terlalu lugu, aku membencimu sejak itu! hakmu mengklaim aku bagimu dewasaku adalah jerih payah mu. pekikku yang bagimu adalah sengau tak berarti, tak akan dapat menghanguskan apapun lagi, kini. lakuku adalah laku egoku preogratifku jika aku menari di atas egoku! sudah final! kau kan aku buang dari nurani karena mataku tlah letih tuk meraba lima indra. (lamongan, 02/06/2013)

poem 10

aku tak lagi bersenandung dalam bunyi kelamku tak lagi nampak beku itu merayap sela-sela nadir yang mengangga dalam masygul yg menyapu hati (lmg, 26/05/2013)

poem 9

aku menikmati tiap gelak tawamu aku mengidolai tiap jejak yang kau ukir itu sayangnya tak pernah ku jumpai kau bertafakur mengingat Tuhanmu entah apa itu karena pengelihatku yang tertutup debu atau memang itu sunguh kamu. (Lamongan, 10/05/2013)

poem 8

aku ingin merangkaikan kata-kata untukmu agar tumbuh rasa dihatimu untukku, tapi kata itu terasa mencekikku hingga tak sanggup ku ungkapkan lewat nada terpaksa ku kirimkan peti mati itu agar kau tahu betapa dalamnya rasaku padamu. (Lamongan, 25/03/2013)

AKU MASIH...

setiap langkahku kuniati tuk menjahuimu setiap asaku ku yakini itu karenamu karena kabut yang kau cipta dimasa kanakkku masih berbekas hingga kini.... tak ada satu keraguanpun dalam nafasku jika namamulah yang terpatri dalam nadirku karena hingga kini... aku masih membencimu!!! (Lamongan, 29/3/2013)

PAGIKU

aku terlilit dalam tiap kata yang terucap seakan menjelma dalam pusaran tak bertepi adanya nada yang tersaji membuatku makin tercekik aku butuh sunyi karena pagi tlah menjelma menjadi bunyi ini masih pagi.... tapi lelahku tlah terkulminasi (butuh segelas kopi lagi) *Lamongan, 30/03/2013

suratku

Lamongan, 02 April 2013 Kepada Sang Surya di Ufuk Timur Dengan segala takzim, Ingin kukabarkan kepadamu bahwa pagi ini aku merindu merindui si Surya pagi yang enggan menampakkan diri. Haruskah ku sajikan: 1. secangkir kopi cinta 2. sepiring sapaan hangat, dan 3. seulas senyum manis. Demi rinduku akanmu yang enggan bersua denganku haruskah ku menunggu di balik awan itu. karena hingga kini aku masih merindumu untukmu Suryaku. (vialin, 8. 58 PM) 2 april 2013

catatan fon awal kalimat

Saat itu datang Akal sudah tak dapat dikompromi Kekayaan Atau bahkan Rasa bangga yang selama ini di nomersatukan Akan musnah Tak berbui sedikitpun Urusan duniawi pun Luluh lantak tak berbekas Masa itu tak menunggu hari Akan datang jika jatah tlah Usai Tamat sudah masamu di bumi *catatan fon awal kalimat (6/4/2013, Lamongan)

poem 7

rasa tidak suka yang berlebih akanmu akan memuncak entah itu karena sebuah nama atau sebuah kata aku meyakini seutuhnya bahwa ketidaksukaanku akanmu ini beralasan tapi kedongkolan di hati itu tak bisa menjauh manakala tentangmu selalu berputar di duniaku jika saja ku punya kemampuan tuk menghilang... akan kuhilangkan mereka dari bumi, agar tak mengotori hatiku yang semakin menghitam (Lamongan, 07/04/2013)

poem 6

Masih ku ingat namamu di senja itu Meski kadang rindu meradang Tapi terpuruknya aku.. Saat bulan tertutup kabut malam ini Ku mendengar berita Waktumu di bumi tlah usai. Tak pernah nampak kesakitanmu selama ini di ronamu 'kakak' baruku selamat jalan Tlah kau selesaikan tugasmu di bumi dg indah. Kau hantarkan dua kebanggaannu ke tempat menuntut ilmu Dengan bekal iman yg kuat Tlah kau singgahi pula tanah suci itu. Kini damailah dirimu di rumah baru (18 April 2013, Lamongan)